Mengenang Peristiwa Bom Atom Herosima Secara Damai
Saat menunggu pesawat di Bandar Udara Hiroshima, Kamis (21/10) siang, saya mencoba berbincang dengan Kague Miyasaka (69), warga Jepang, yang kebetulan hendak bersama menuju Tokyo. Kepadanya, saya menanyakan bagaimana sikap dan perasaan orang Jepang terhadap Amerika Serikat terkait bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada Agustus 1945.”Kami tidak menyimpan dendam kepada Amerika Serikat (AS) yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima, sekarang kami bersahabat. Kejadian itu sudah lama berlalu,” kata Kague yang masih berumur empat tahun saat tragedi itu terjadi.
Jawaban Kague barangkali sama dengan kebanyakan orang Jepang kalau ditanya tentang peristiwa yang menyebabkan sekitar 200.000 orang tewas di Hiroshima. Bom atom Hiroshima dan Nagasaki merupakan luka bangsa Jepang, tetapi sejak peristiwa itu Jepang bangkit sebagai raksasa ekonomi.
Kota Hiroshima, yang rata dengan tanah pada 6 Agustus 1945 akibat disapu bom atom, telah menjadi kota kelas dunia hanya dalam waktu 20 tahun sejak kehancurannya. Sekarang Hiroshima sejajar dengan kota-kota besar di Asia, lengkap dengan jaringan kereta api bawah tanah, pusat perbelanjaan bawah tanah, dan taman-taman yang cantik.
Meskipun peristiwa memilukan itu terjadi 65 tahun lalu, bangsa Jepang terus mengenangnya dari generasi ke generasi. Caranya dengan membangun Taman Peringatan Perdamaian yang luasnya puluhan hektar.
Taman tersebut terletak di jantung Kota Hiroshima yang disebut kawasan Nakajima-cho, tidak jauh dari titik tempat meledaknya bom atom yang diberi julukan ”Little Boy”. Di dalam kompleks taman, ada 66 situs yang sebagian besar adalah monumen untuk mengenang para korban bom atom dan beberapa gedung termasuk museum.
Kubah bom atom
Situs yang paling terkenal di kompleks Taman Peringatan Perdamaian adalah Kubah Bom Atom atau Genbaku Dome-mae dalam bahasa Jepang. Kubah Bom Atom adalah reruntuhan gedung berkubah yang secara ajaib masih relatif utuh meski bom atom meledak di dekatnya.
Gedung berkubah itu pada masa Perang Dunia II adalah gedung perkantoran milik Pemerintah Kota Hiroshima. Letak gedung persis di pinggir pertemuan dua sungai, yaitu Sungai Honkawa dan Sungai Motoyasu-Gawa yang menyatu di Sungai Ota-gawa.
Lokasi tersebut dipilih sebagai titik menjatuhkan bom atom karena merupakan kawasan perkantoran dan perbelanjaan. Banyak gedung penting yang lokasinya di sekitar Sungai Honkawa dan Sungai Motoyasu-Gawa.
Bom atom ”Little Boy” yang dijatuhkan dari pesawat pembom B-29 meledak hanya 160 meter sebelah tenggara gedung. Bom atom meledak di ketinggian 600 meter dari permukaan tanah. Bom sengaja diledakkan ketika masih di udara agar kehancuran yang ditimbulkannya lebih besar.
Semua bangunan dalam radius empat kilometer dari titik meledaknya bom atom hancur. Anehnya, bagian kubah gedung masih tegak meskipun bagian lain rusak parah.
Gedung berkubah itu sengaja tidak dirobohkan dan kondisinya dijaga agar sama seperti 65 tahun lalu. Tujuannya untuk mengingatkan siapa saja akan kekejaman bom atom.
Kisah Sadako
Situs berikutnya yang wajib dikunjungi di kompleks Taman Peringatan Perdamaian adalah Monumen Perdamaian Anak-anak untuk mengenang bocah-bocah tak berdosa yang menjadi korban bom atom.
Monumen ini juga untuk mengenang Sadako Sasaki, bocah perempuan dari Hiroshima yang meninggal karena leukemia. Leukemia merupakan dampak dari radiasi bom atom.
Saat dirawat di rumah sakit, bocah berwajah bulat itu menyibukkan diri dengan membuat burung dari kertas. Menurut legenda yang dipercaya Sadako, orang yang membuat 1.000 burung kertas akan terkabul keinginannya. Sadako berharap ia sembuh dari penyakit ganasnya.
Sadako terus membuat burung kertas sampai ia tak sanggup dan ajal menjemputnya tahun 1955 saat ia berumur 12 tahun. Sadako baru membuat 644 burung kertas. Teman-teman sekolah Sadako lalu meneruskan membuat burung kertas sampai berjumlah 1.000, kemudian menguburnya bersama Sadako.
Sampai saat ini, tradisi membuat burung kertas dan meletakkannya di monumen masih berlangsung. Ribuan burung kertas aneka warna tersimpan dalam beberapa kotak kaca di depan monumen. Burung kertas itu berasal dari seluruh dunia, bukan hanya dari Jepang.
Museum Perdamaian
Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima yang juga terletak di kompleks Taman Peringatan Perdamaian adalah tempat yang sama terkenalnya dengan situs Kubah Bom Atom. Untuk memasuki museum, pengunjung harus membayar tiket seharga 50 yen (sekitar Rp 5.000). Harga itu tidak mahal untuk ukuran Jepang karena di sana sekaleng Coca Cola harganya 100 yen (sekitar Rp 10.000).
Koleksi museum ini sangat lengkap. Di dalam museum, pengunjung mendapat penjelasan tentang sejarah bom atom dan mengapa Jepang harus dijatuhi bom atom.
Museum juga mengoleksi ribuan benda yang terkena dampak ledakan bom atom, foto-foto, diorama, maket Kota Hiroshima sebelum dan setelah ledakan, serta perangkat multimedia berupa televisi layar datar dan sistem pengeras suara.